Selasa, 17 November 2015

Kakek yang Beruntung

Joko adalah seorang kakek berumur 65 tahun yang telah memiliki 5 orang cucu, kelima cucu Joko ini merupakan anak-anak dari keempat anaknya yang telah dewasa dan semuanya telah bekerja di luar kota dan bahkan ada pula yang bekerja di luar pulau Jawa. Joko menjalani hidup sehari-hari bersama istrinya yang setia. Istri Joko berusia 50 tahun, beda 15 tahun dengan Joko. Istri Joko merupakan istri yang setia yang telah menemani dan hidup bersama Joko selama 40 tahun. Keduanya hidup di desa, sebut saja nama desanya adalah Desa Sukamaju. Namun yang akan diutarakan oleh penulis pada cerita ini bukan mengenai kehidupan Joko dengan istrinya melainkan kehidupan Joko sebagai “Kakek Yang Beruntung”, mau tau kenapa si Joko disebut beruntung. Ikuti saja cerita ini setiap episode-episodenya, don’t miss it.
Cerita ini bermula ketika Desa Sukamaju, tempat di mana si kakek jagoan kita tinggal, kedatangan sepasang penganten baru dari salah satu kota besar di propinsi Jawa Timur . Dan secara kebetulan, pada saat itu rumah tepat di sebelah rumah Joko sedang kososng. Sepasang penganten baru itu akhirnya memutuskan untuk menempati rumah itu karena rumah itu berada di tempat yang strategis, selain dekat dengan jalan besar, hawanya sejuk dan adem serta karena rumah itu dekat dengan pasar sehingga tidak perlu berjalan jauh kalau perlu belanja kebutuhan sehari-hari. Mereka memutuskan untuk pindah dari kota ke desa karena sang suami ditugaskan sebagai salah satu pimpinan di Koramil I Desa Sukamaju. Setelah si Joko berbincang-bincang dengan calon tetangganya itu, diperoleh informasi bahwa si suami bernama Andi berusia 25 tahun sedangkan istrinya bernama Dina berusia 21 tahun. Andi bekerja sebagai Angkatan Darat pemula yang baru saja lulus akademi militer di kota asalnya. Selama perbincangan sambil memperkenalkan dirinya dan istrinya, si Joko juga bersikap ramah kepada sepasang calon tetangganya tersebut. Karena sikap Joko yang ramah itulah Andi dan Dina merasa sudah nyaman dan tak perlu lagi khawatir mengenai bagaimana pergaulan di desa yang baru akan mereka tinggali ini, bahkan dalam waktu yang singkat itu mereka telah menganggap Joko dan istrinya selayaknya bapak dan ibunya sendiri. Mereka tidak tahu apa yang ada di dalam benak Joko pada saat itu. “It’s show time” kata Joko dalam hati.



Selama perbincangan yang akrab dengan Andi dan Dina itu, mata si Joko selau mencuri-curi pandang kepada Dina yang ikut mendengarkan Andi ngobrol dengan Joko. Si Joko tak henti-hentinya mencari kesempatan untuk mengintip kearah tubuh Dina. Dina tidak memperhatikan perilaku Joko itu karena selain si Joko cukup lihai dalam hal intip-mengintip sehingga tidak ketahuan juga karena Dina terlalu asik mengobrol dengan istri Joko yang juga terkenal ramah di desa itu. Dina adalah wanita yang cantik dengan kaca mata yang menambah keanggunannya, tubuh Dina sangat sexy selain kulitnya yang putih banget bak pualam, terawat layaknya cewek-cewek kota, mulus, juga karena kulitnya mengkilat bila terkena cahaya matahari, serta rambutnya hitam panjang. Tapi yang membuat Joko menelan ludahnya beberapa kali bukan karena itu tetapi justru karena ukuran buah dada dan pantat Dina yang di atas rata-rata. Buah dada Dina berukuran kira-kira 40 A sehingga hampir menyerupai buah melon yang menggantung indah, sedangkan pantatnya sangat kencang sehingga seperti ada yang menariknya ke atas, sangat bagus, bulat, kencang ke atas. Apalagi pada saat itu Dina menggunakan kaos ketat berwarna putih dengan celana jeans ketat selutut, membuat si Joko ngaceng walaupun usianya sudah tua bangkotan tetapi tidak dapat mengahalangi nafsu kelaki-lakiannya. Setelah ngobrol kesana kemari, akhirnya istri Joko mengajak Joko untuk pulang karena dia harus masak untuk hari ini. Joko mengiyakan dan ikut pulang bersama istrinya walaupun hatinya masih ingin melahap pemandangan gratis tubuh Dina yang super duper big bang HOT man!

Selama beberapa hari pertama pasangan pengantin baru itu hidup di desa, Joko selalu dengan senang hati membantu tetangga barunya itu. Selain karena amal juga memberikan kesempatan bagi Joko untuk menonton tubuh Dina yang sexy. Selama beberapa hari ini, Dina sudah menjadi bintang desa. Karena sewaktu dia pergi ke pasar, selalu menjadi tontonan para warga desa dan tukang ojek yang setiap pagi selalu nongkrong di pasar dekat rumah Dina. Tetapi Dina cuek saja terhadap perilaku warga desa itu, karena selain Dina memakai baju yang sopan juga dia mencoba untuk bersikap ramah kepada siapa saja sehingga warga desa yang pada awalnya bernafsu menjadi segan dan hormat kepada Dina. Andi memang beruntung memiliki istri cantik dan bohay seperti Dina tetapi memang pantas karena Andi yang seorang tentara dianugerahi wajah yang tampan sebanding dengan istrinya yang cantik. Pernah pada suatu pagi ketika Andi sudah berangkat dinas, Dina sendiri di rumah sambil bersih-bersih rumah. Dina pada saat itu yang selalu memakai kacamatanya hanya menggunakan tanktop ketat berwarna putih dan celana pendek ketat di atas lutut yang membuat payudara jumbonya dan pantatnya sungguh menantang ke atas, siapa saja yang melihat Dina pasti akan onani seketika saking terlalu seksinya istri Andi itu. Si Joko yang pada saat itu menikmati hari-hari pensiunnya tidak ada pekerjaan sehingga dia iseng-iseng berkunjung ke rumah tetangganya sambil mengharapkan jatuhnya durian nomplok (bahasa apaan nomplok). “Rajin banget ibu ini” sapa Joko kepada Dina di depan rumah Dina. “Ah, enggak kok pak udah biasa kayak gini”, jawab Dina yang kaget tetapi tetap ramah. Dina tidak risih menggunakan pakaian yang super sexy itu karena ia telah menganggap Joko sebagai pengganti orang tuanya di desa itu padahal bila kepada orang lain, Dina selalu menjaga kesopanannya baik dalam berpakaian maupun tingkah lakunya.

“Mangga mampir atuh pak Joko”, kata Dina mempersilakan Joko masuk dengan logat sundanya. Joko yang tidak melepaskan kesempatan itu dengan basa basi dan malu malu kucing mampir juga ke rumah penganten baru itu.

Setelah mempersilahkan Joko duduk dan membuatkan minum, Dina berkata, ” Pak, tunggu sebentar ya saya mau ngepel lantai dulu, mangga diunjuk dulu atuh naon bapak teak”,”Iya bu makasih enggak usah repot-repot bu”, jawab Joko basa basi. Dina langsung mengambil lap basah dan mulai mengepel lantai sambil menungging yang membuat pantatnya bergoyang-goyang ketika dia mengepel lantai bergerak dari kiri ke kanan. Payudaranya juga bergoyang-goyang ke samping seperti mau keluar menembus tanktop ketat yang dipakainya saat itu. Si Joko yang melihat pemandangan itu hanya bisa menelan air liurnya sendiri sambil berpura-pura minum yang telah disuguhkan oleh Dina. Seketika Dina merubah posisinya saat mengepel lantai menghadap Joko, membuat tanktop berdada rendah yang dipakai Dina saat itu membuat payudara Dina betul betul terlihat besar, putih, dan mengkilat tekena cahaya saat Dina membungkuk mengepel lantai. Buah dadanya membusung bulat bergoyang-goyang seperti buah melon bahkan pinggiran bra Dina terlihat jelas saat itu. Sungguh pemandangan yang indah di pagi hari “betul-betul kejatuhan durian nomplok!!!”,pikir Joko dalam hati. Bila tidak memperhatikan posisinya sebagai sesepuh di desa itu, Joko pasti sudah onani di tempat saat itu juga. Setelah hampir 10 menit mengepel, Dina akhirnya selesai dan duduk di ruang tamu mendampingi Joko ngobrol masih dengan badan yang basah karena keringat. Badan yang basah itu membuat kulit Dina yang putih itu kelihatan mengkilat bercahaya dan bra yang dikenakan mengecap tembus dari balik tanktopnya. Si Joko jadi tidak konsentrasi selama ngobrol dengan Dina, matanya selalu terarah pada dada dan kaki Dina yang putih mulus jenjang tanpa cela. Untung Joko merupakan kakek yang berpengalaman sehingga kegugupanya dapat dia sembunyikan sambil terus mengobrol bersama Dina sampai Andi pulang dan Joko pun pamit pulang.

Esok harinya di rumah, Joko hanya bisa melamun sambil menemani istrinya masak di dapur. “Kapan aku bisa menjebol “gawang” Dina”, pikirnya yang sudah dirasuki berbagai jenis iblis dan setan karena keseksian tubuh Dina yang seperti bintang bokep Amerika itu tetapi yang ada pada Dina asli semua tidak seperti bintang bokep Amerika yang kebanyakan disuntik silikon. Sungguh beruntung Andi bisa punya istri yang cantik jelita, anggun yang lebih cocok jadi bintang sinetron daripada jadi ibu rumah tangga seperti itu. Lamunan Joko dibuyarkan oleh istrinya yang berteriak ,”Pak….Pak…Pak!” Joko kaget tak terasa dia air liur menetes dari mulutnya NGILER hehehehe.

Keesokan harinya Joko kembali mampir lagi ke rumah Dina saat Andi sedang dinas. Andi yang telah mengetahui hal ini menjadi rutinitas bagi Joko tidak keberatan sama sekali karena selain Joko sebagai tetangga satu-satunya di komplek rumah itu (NB: rumah Andi paling pojok, sedangkan rumah Joko tepat di sebelah rumahnya) juga karena kehadiran Joko dapat menjaga istrinya yang bohay itu. Menjaga atau justru Melahap tepatnya pikir Joko dalam hati. Saat itu Dina sangat cantik karena rambut panjangnya diikat kebelakang sehingga menunjukkan lehernya yang putih serta kacamatanya yang selalu digunakannya menambah kesan anggun pada diri Dina. Dina yang pada saat itu memakai kaos berwarna biru ukurannya sangat kecil menurut Joko sampai-sampai dadanya yang membusung bak semangka mengangkat kaos ketatnya sehingga pusarnya tidak dapat tertutupi oleh kaos itu. Joko yang saat itu berdiri sambil ngobrol menemani Dina memasak di dapur terpaksa harus agak membungkuk karena penisnya sudah mengacung keras maksimal Bos! Ingin rasanya langsung dia remas-remas balon besar itu sambil menyodok-nyodok vaginanya yang belum pernah ia lihat itu.

Ketika Dina membalikkan badannya menghadap wajan saat ia memasak sehingga secara otomatis dia mambelakangi Joko sambil terus ngobrol, Joko dapat dengan leluasa melihat pantat indah kencang milik Dina yang saat itu terbungkus rok khas ibu rumah tangga di bawah lutut tetapi entah karena ukuran rok tu yang kekecilan atau pantat Dina yang semok sehingga pinggir celana dalam Dina terlihat tembus mngecap di roknya. Pantatnya yang bergoyang-goyang saat ia menggoreng membuat penis Joko yang mengacung tegak dari tadi akhirnya tak mampu lagi menahan keluarnya muatan di dalamnya maklumlah karena sejak isteri Joko menopause, Joko tidak pernah merasakan bercinta lagi. Karena sperma Joko yang keluar prematur itulah ia minta ijin pulang terburu-buru kepada Dina dan ambil langkah seribu. Dina yang sedang asik memasak terlihat bingung dengan perilaku Joko itu. Dalam waktu 1 minggu Dina telah menjadi primadona di desa itu. Bukan hanya para pemuda yang ingin merasakan tubuh wanita muda itu tetapi para orang tua, kakek-kakek, remaja, bahkan sampai anak kecil ingusan pun ikut mencuri-curi pandang saat Dina pergi ke pasar atau menjemur pakaian di luar. Joko merasa beruntung karena menjadi tetangga seorang wanita yang diinginkan bukan hanya warga desa tetapi mungkin desa tetangga pun mulai penasaran dengan hanya sekedar lewat depan rumah pasangan pengantin baru itu. Dari perbincangan yang dilakukan selama ini dengan Dina, baru diketahui oleh Joko bahwa Dina dan Andi dating ke Desa Sukamaju ini sekalian berbulan madu tetapi hal itu belum kesampaian karena Andi sangat sibuk dengan tugasnya sebagai salah satu pimpinan KORAMIL I di desa itu. Dina berani menceritakan hal yang sangat pribadi ini karena Joko telah dianggap sebagai bapaknya sendiri yang telah bersedia menolong segala keperluan sebagai pendatang baru dan telah bersedia menemaninya selama suaminya dinas. Joko menarik kesimpulan bahwa mungkin si Dina ini masih orisinil alias belum pernah tersentuh alias masih perawan dong. Memikirkan hal itu saja sudah membuat konaknya ngaceng ke ubun-ubun. It’s SHOW TIME pikirnya.



Sampai pada suatu saat di siang hari seperti biasanya Joko mampir ke rumah Dina untuk menemaninya masak. Andi datang terburu-buru ke rumahnya dan langsung mandi belum sempat bagi Dina atau Joko untuk menanyakan apapun kepadanya. Setelah mandi baru Andi menceritakan bahwa ia akan ditugaskan selama 1 minggu ini ke pulau Madura untuk menjaga Pilgub putaran 2 yang akan akan dilakukan di sana. Andi tergesa mengepak barang-barangnya setealh itu berbicara sebentar dengan Dina yang terlihat sedih dengan kabar itu tetapi dia harus kuat karena itulah resiko menjadi istri tentara. Tak lupa Andi memberikan uang kepada istrinya dan mengecup sayang dahi istrinya itu. Setelah mencium istrinya, Andi berbicara kepada Joko dan memberikan amanah untuk menjaga dan memenuhi segala keperluan istrinya. Joko mengiyakan dan mereka bersalaman. Andi segera berangkat naik ojek dan hilang dari pandangan, Joko mulai berpikir yang macam-macam sambil melihat istri Andi yang masih terlihat sedih itu. “1 Minggu bersama Dina, hehehehe cukup lama!”, katanya dalam hati. (Dasar si Joko tua-tua keladi makin tua makin keladi hehehe salah ya!) Malam harinya Joko pamit kepada istrinya untuk manjaga rumah Dina sampai jam 11 malam. Istri Joko mengijinkannya dan menaruh curiga sedikitpun kepada Joko, karena selama kehidupan pernikahannya yang telah mencapai usia 40 tahun itu Joko tidak pernah macam-macam, jangankan berselingkuh melirik wanita lain pun tidak. Mungkin hanya Dina yang sanggup meruntuhkan keimanan Joko karena bodinya yang bohay montok itu masih perawan lagi.

Petang itu Joko sudah standby di rumah Dina sambil nonton TV di ruang keluarga sambil minum kopi yang disediakan Dina tadi. Dina yang sedang mencuci piring di dapur ikut ngobrol dengan Joko. Setelah keluar dari dapur, Dina membawa handuk yang menandakan ia akan mandi menuju ruang belakang. Nafsu Joko melonjak naik dalam situasi seperti ini namun Joko masih stay cool sambil mencari-cari titik kelemahan cewek bohay ini, apapun yang terjadi dia harus bisa menancapkan penisnya dalam-dalam ke dalam vagina pelacur satu ini pikir Joko yang mulai tak terkendali. Sesaat kemudian Dina mandi dan tanpa sengaja meletakkan kacamatanya di ruang keluarga tempat Joko nonton TV. 10 menit berlalu tiba tiba Joko dikagetkan oleh panggilan Dina, “Pak…Pak Joko tolong ambilkan kacamata saya di ruang tengah pak..”. “Sebentar bu….” jawab Joko, “Cepetan Pak…. mata saya kabur tanpa kaca mata ” mendengar kata-kata terakhir Dina itu Joko kaget dan otaknya mulai berpikir, “akhirnya aku tau juga kelemahanmu Dina!!! Hehe” senyum Joko mengembang. Joko segera menghampiri kamar mandi, betapa kagetnya ia saat melihat pintunya sedikit terbuka. Joko mencoba mengintip ke dalam secara perlahan-lahan dan yang membuat Joko tambah kaget bercampur senang adalah Dina dalam keadaan telanjang bulat tanpa sehelai kain menutupi tubuhnya yang montok sexy itu. Anehnya mata Dina menghadap ke arahnya tetapi dia tak bereaksi sama sekali. “Pak …. Mana kacamata saya !!!!,cepet pak saya tak bisa lihat kalo gini”, jerit Dina. Joko yang mendengar hal ini langsung mendapat ide yang sangat busuk. Dia mencoba membuka pintu pelan-pelan dan masuk secara mengendap-endap sehingga Dina tidak menyadari kedatangannya. Dina betul-betul buta tanpa kacamatanya apalagi lampu di desa itu remang-remang sehingga membatasi jarak pandang siapapun yang bermata normal apalagi Dina yang matanya negatif 30. Sekejap Joko telah berada di dalam kamar mandi dengan leluasa dia menikmati pemandangan yang sangat menggairahkan.

Bodi Dina sangat sexy bohay montok banget, putih mengkilat karena sisa air sehabis mandi tadi. Rambutnya yang hitam panjang sepunggung terlihat segar karena basah, dan yang membuat Joko tidak kuat adalah buah dada Dina yang bulat besar seperti melon mendekati semangka. Walaupun payudara Dina sangat besar tetapi sangat kencang tegak mengacung ke atas tidak menggelambir dan dower seperti payudara besar pada umumnya. Putingnya berwarna merah muda khas perawan yang mengacung ke depan padahal ia belum terangsang tetapi bentuk putingnya sangat bagus sempurna. Ditambah dari ujung puting itu menetes air yang berasal dari bagian atas tubuh Dina membuat Joko ingin menggigit gemas puting itu kalau bisa sampai Dina kesakitan. Setelah puas menonton lekuk tubuh sempurna bagian atas Dina, Joko memalingkan pandangannya menuju bagian bawah tubuh Dina. “Pak Joko mana kacamata saya, lama banget!!” teriak Dina. Dengan begini Joko mengetahui bahwa Dina belum menyadari dia ada di sebelahnya menatap liar tubuh yang seharusnya hanya untuk suaminya saja itu. Lanjut!!! Pikir Joko bersemangat. Melihat bagian bawah Dina membuat sperma Joko ingin meledak saja dari dalam celananya. Bagaimana tidak, perut yang ramping dan kencang (karena selama di kota Dina rajin fitness) ditambah rambut vagina yang dicukur rapi sehingga membentuk huruf V terlihat menggoda di vagina Dina. Vagina Dina yang masih perawan juga terlihat sexy dengan dua gundukan yang menggemaskan menutupi lubang yang belum terjamah oleh laki-laki manapun. Lubang inilah yang diinginkan oleh seluruh warga desa untuk dijebol dan kalau bisa menghamilinya sampai jadi anak kalau bisa karena bodi Dina yang semlohai.

Pantat Dina pun sangat sempurna masterpiece (bahasanya duh duh duh) pikir Joko sangat bersih putih basah oleh air sangat kencang menantang bahkan seperti terangkat ke atas padahal Dina hanya berdiri biasa normal tetapi pantatnya seperti menungging. Seketika seperti biasanya, sperma Joko meledak begitu saja di dalam celana yang membuat kakek itu keluar dari kamar mandi dan meletakkan kacamata Dina di meja depan kamar mandi “I..Ini bu uuuhh.” Kata Joko sambil bergetar setelah celananya basah oleh spermanya yang banyak itu. Joko pamit kepada Dina dan langsung terburu-buru pulang untuk mandi dan membersihkan celananya yang basah. Melihat Joko mandi malam-malam membuat istri Joko beingung buat apa dia mandi malam-malam begini. Dalam hati Joko berkata,”awas ya Dina…tunggu pembalasanku”. Joko merasa dipermainkan oleh bodi Dina yang seksi itu walaupun Dina tidak tahu apa yang salah dengan bodinya. Joko berniat tidak akan puas dan akan mati gentayangan bila dalam hidupnya yang telah senja ini tidak sempat menjebol sedalam-dalamnnya menembus vagina Dina yang menggiurkan itu.