Selasa, 17 November 2015

Rasa Penasaran Membawa Nikmat

Kejadian malam itu terulang lagi dua malam kemudian. Kali inipun aku dengan sengaja mendatangi kamar mbak Narti karena minta ditemani tidur dan lagi-lagi saat itu bukanlah saat yang tepat bagiku. Kali ini bahkan lebih parah. Untuk pertama kalinya dalam hidupku aku menyaksikan hal yang selama ini hanya pernah kudengar dari orang atau dari buku. .....sebuah persetubuhan! Bedanya jika kemarin aku memergoki mereka karena aku menerobos masuk ke dalam kamar sedangkan kali ini aku belum sempat masuk.Namun aku bisa melihat dari luar kamar apa yang terjadi di dalam situ karena kebetulan pintu kamar mereka tak tertutup rapat. Entah mengapa aku tidak kabur seperti kemarin. Aku justru berdiri terpaku di situ. Seakan berharap bisa melihat lebih jauh apa yang bakal terjadi selanjutnya di dalam situ. Seketika itu tubuhku langsung merespon secara aneh. Jantungku berdetak keras. Sementara tubuhku menggigil bak kedinginan.

Terus terang saja baru kali itu juga aku melihat penis seorang lelaki dewasa dan dalam keadaan ereksi lagi. Dari posisiku berdiri aku bisa menatap jelas saat benda hitam yang licin dan basah pada selangkangan mang Gimin itu bergerak timbul dan tenggelam ke dalam vagina mbak Narti. Aku juga merasa agak ngeri saat tahu sebegitu jauhnya vagina seorang wanita bakal terentang saat di masuki alat kelamin seorang pria.
“Heggg!! Ndukkk ...Eunakkk!!!”
Kudengar suara erangan mang Gimin dengan sedikit menggeram. Detik itu juga tiba-tiba pinggulnya ia hentakkan dengan kuat kebawah.
JLEEPPPPP! AWww! Aku sampai mendesis. Untung saja kesepuluh jemariku cepat menutup bibirku. Jika tidak aku pasti bersuara seperti malam sebelumnya. Betapa kuat hujamannya itu!. Akupun seakan ikut-ikutan tersodok. Dan kurasakan ada sesuatu yang terpancar keluar dari kemaluanku.
JLEEPPP!
Argg! Dia menghujam lagi! Hujamannya kembali membuat cairanku terpancar.
“ARGhhhhhhhhh!! Kaaaaangg!!” kali ini kudengar mbak Narti memekik ...pilu.
Aku tak tahu apakah itu pekik kesakitan mbak Narti atau bukan? Bisa jadi mbak Narti menderita gara-gara mang Gimin menghujamkan alat vital secara kuat ke vaginanya? Mang Gimin terus menghujaman hingga beberapa kali sampai akhirnya ia benar-benar berhenti melakukannya dan menahan hujamannya di dalam agak lama. Bola testisnya terlihat menggembang dan mengempis kuat. Lalu kulihat cairan putih meluber dari sela-sela kemaluan mereka berdua. Aku tak mampu menonton adegan itu lebih lama lagi. Aksi lima belas menit mang Gimin dan mbak Narti itu benar-benar menggoyahkan dengkulku sekaligus membuat celana dalamku menjadi sedemikian basahnya. Aku bergegas kembali ke kamarku sebelum mereka memeregokiku. Alhasil aku jadi sulit sekali tidur malam itu. Kejadian barusan selalu terbayang di pelupuk mataku. Uhh! malam masih begitu panjang sedangkan aku semakin gelisah. Tak ada jalan lain terpaksa gulingku kujepit dengan kedua pahaku dan kutekan kuat-kuat ke arah keselangkanganku. Hanya itu caraku melampiaskan rasa aneh yang bergejolak di dadaku.
#############################
Keesokan paginya mataku sayu karena kurang tidur semalam. Aku berangkat ke sekolah di antar oleh mang Gimin. Di tengah perjalanan aku kerap melirik ke arah celananya. Hatiku berdetak kencang ingat jika di dalam situ ada sebuah benda dasyat yang kulihat tadi malam yang membuat mbak Narti terpekik-pekik keenakan.
############################
Malam harinya setelah mengerjakan PR-ku aku ditemani mbak Narti menonton film di kamarku. Rasa gelisah kembali merasuk. Kegelisahan yang sama seperti yang kurasakan pada malam kemarin. Bayang-bayang keintiman antara mbak Narti dengan mang Gimin terus-terusan muncul mengganggu konsentrasiku pada film yang kutonton. Aku seakan masih mendengarrintihan dan erangan dari mbak Narti. Aku masih bisa membayangkan pantat hitam nan keriput mang Gimin bergerak naik turun.Dan yang paling menggelisahkan adalah ingatan akan batang penis mang Gimin yang hitam besar dan melengkung itu menghujami vagina mbak Nartiyang kecil mungil.
“Si non kok melamun?” tanya mbak Narti di tengah-tengah pertunjukan.
“Hi hi iya mbak. Eh Kok mbak bisa tahu?”
“La iya tahu. soalnya non diem ndak ketawa-ketawa sejak tadi padahal filem-nya lucu banget.Pasti lagi mikirin ‘itu’ ya?”
“I.ituu? Itu apaa sih mbak?”
“Itu tuu yang non intip semalem” ujarnya mengagetkanku.
“N.ngintip apaan?”tanyaku pura-pura bego.
“Kemaren malem si non ngintip mbak sama mang Gimin lagi gituan, kan?”tembaknya langsung.
“Idihhh mbak. Jangan nuduh sembarangannn” sangkalku. Wajahku jadi panas memungkinan mbak Narti bisa melihatnya merona saat itu.
“Sudah ngaku saja!.Soalnya mbak bisa ngelihat bayangan si non di dekat pintu!”
Duh! Malunya.Aku-pun jadi tersipu. Tak kusangka ia bisa tahu. Dasar aku-nya yang bego dan kurang hati-hati.
“Hi hi Iya deh mbak, Sabrina ngaku.. tapi beneran itu bukannya Sabrina sengaja mau ngintip. Mbak juga sih yang ga ngunci pintunya!”kilahku
“Dasar! Ntar matanya bintitan, lho non!”godanya. Lalu kami melanjutkan tontonan kami hingga selesai.
“Eng.. mbak”
“Iya non?”
“Sakit ngga sih, Mbak?”tanyaku ragu-ragu
“Apanya yang sakit, non?”
“ituu..di ‘gitu’in sama mang Gimin?”tanyaku lebih jelas.
“Hi hi hi mbak pikir apa ternyata itu toh? Yaa ndak lah, non. Justru rasanya enak bangeeet!”jawab mbak Narti sambil tertawa geli mendengar pertanyaan luguku.
“Masa sih,mbak? Kok mbak teriak-teriak? ”tanyaku kurang yakin sebab masih terbayang olehku betapa lebar vaginanya terentang oleh alat vital mang Gimin.
“Hi hi hi hi Non…non..mbak teriak yaa karena keenakan!”
“Oooo..begitu..”ujarku termagu-magu.
“Lagian mana mungkin perempuan doyan begituan kalau rasanya tidak enak.Eh?..kenapa si non tanya? Si non belum pernah ngerasain, ya?”tanya
Aku mengeleng. Tentu saja aku belum pernah melakukan itu. Pacaran pun aku dilarang sama mami meski begitu banyak cowok yang tergila-gila oleh tampang buleku.
“si Non kepengen, Ya?”tanyanya mengagetkanku.
“Idihhh mbak!. Sabrina kan cuma nanya doang!”elakku. Tapi mbak Narti seakan tahu hasratku. Kulitku yang putih tak mampu menyamarkan pipiku yang bersemu dadu.
“Sudahh ndak usah bohong lagi. Ngaku saja. Mbak tahu cirinya kalau perempuan sedang kepingin. Mbak juga begitu waktu seumur non. Kepingin ndak nyobain?”
“Iya sih mbak tapi Sabrina-kan belum punya pacar”ujarku lesu.
“O gitu toh. Eng...Bagaimana kalau sama...mang Gimin aja. Mau ndak?”
“A..paaa?! Samaa mamang,mbakk?!”Jantungku berdetak keras mendengar tawaran tak terduga-duga darinya itu.
“Iya...”
“Nggaaa mauuu ahh, mbak! Masak sama mamang!”
“Lho kenapa? Biar sudah tua tapi penisnya enak banget lho. Non juga ndak usah malu. Mbak ndak keberatan non di gituin sama suamiku. Mang Gimin juga pasti seneng banget!”
“Sabrina ngga mau, Mbak!”
“Katanya tadi kepingin. Ayolah!...Mumpung maminya non sedang ndak ada”.bujuk mbak Narti.
“B.bbukannya begitu, mbak. Mami pernah bilang Sabrina harus menjaga keperawanan Sabrina sampai menikah kelak”
“Oalah! Cuma karena masalah itu, toh?”
“Maksud Mbak?”
“Ntar kita bilangin sama mamang supaya di celup aja”
“Diceluuup, mbak?”
“Iya dicelup!”
“E emangnya ngga bakal pecah, mbak?”tanyaku lagi.
“Ya ndak lah. Yang masuk kan cuma kepala penis saja. Ayolah, tunggu apa lagi?”goda mbak Narti terus berusaha menggoyahkan keimananku.
“Tapii mbakk…Argggg” aku masih tetap ragu.
“Sudahhhh ikuttt!!” ujar mbak Narti menarik tanganku.
###############################
Aku dimintanya menunggu di depan pintu kamar sementara ia masuk dan berbicara dengan suaminya. Tak lama kemudian ia muncul lagi dan langsung menarik tanganku masuk ke dalam kamar sempit itu.Di dalam situ mang Gimin berdiri menyambutku. Ternyata ia sedang dalam keadaan telanjang bulat. Sehingga mau tak mau penisnya yang tak disunat di antara gerombolan bulu kemaluannya yang kusut dan beruban itu terlihat olehku.
“Aaaa!!…Mbakkk takutt!!..”jeritku sambil berlari dan bersembunyi di belakang mbak Narti.
“Masa sih non takut sama ini-nya mamang?” Tanya mang Gimin sambil mendekat ke arahku.Aku semakin merapatkan tubuhku ke mbak Narti. Tapi mataku tetap menatap lekat benda di selangkangannya itu. Benda itu berdiri kukuh seakan tengah menunjuk ke arah aku dan mbak Narti. Bentuknya melengkung laksana sebuah pisang ambon besar dengan balutan kulit keriput berwarna hitam pekat.
“Aaakhhh!” desahku kaget. Tiba-tiba saja benda tersebut melenting ke arah atas secara cepat hingga menampar perut pemiliknya secara keras.
Cletap! ...Cletap!..Cletap! Benda itu terus terhempas-hempas. Aku tak tahu mengapa benda itu bisa bergerak seperti itu seolah-olah ada yang memegang dan mengayunkannya.
“He ..hee.hee” mang Gimin terkekeh sambil berkacak pinggang. Ia sungguh tak punya malu memamerkan bagian tersebut kepadaku.
“Ndak apa-apa non. Bentuknya memang jelek tapi yang penting kan rasanya” kata mbak Narti.
“Gimana jadi ndak, he eh-nya?”tanyanya.
“Tapii…Ntar kalau hamil gimana?”bisikku pada mbak Narti. Mbak Narti tertawa geli mendengar kekuatiranku itu.
“Apa toh nduk?” Tanya mang Gimin pada istrinya.
“Ini kang..Si non takut kalau sampai bunting.”
Mendengar itu mang Gimin jadi ikut terkekeh-kekeh sambil memperlihatkan deretan gusi tanpa gigi palsunya.
“Gini Non. Si non ndak bakalan hamil kalau air pejuh mang Gimin tidak ditumpahin di dalem punyanya non.”
“P.ejuhh?” tanyaku bingung.
“Iya ituu.....air enaknya lelaki. Pasti non juga sudah belajar di sekolah kan?”mbak Narti balik bertanya kepadaku. Aku merenung sejenak. Mungkin yang dimaksud mbak Narti adalah Sperma. Ya pastinya memang itu yang bisa membuahi sel telur perempuan, pikirku.
“Iya sih mbak. Sabrina tahu itu. Tapi Sabrina masih ga yakin dan kuatir”
“Baiklah, mbak coba jelasin biar si non yakin dan ndak ragu lagi”
Lalu ia menambahkan beberapa hal lain yang perlu aku ketahui seputar persetubuhan dan kehamilan pada seorang wanita.Sepertinya apa yang dikatakan mbak Narti barusan memang cocok dan sama dengan apa yang ada di pelajaran biologi. Beberapa istilah asing memang baru kudengar pada saat itu. Tapi aku paham apa yang dimaksudkannya itu ketika kucocok-cocokan dengan bahasa ilmiah yang sering dipakai pada pelajaran sekolah. Seperti ‘pipis enak’ kuduga itu artinya ejakulasi. Lalu ‘kacang’ pastilah itu klitoris dan beberapa istilah lainnya berkaitan dengan hal itu. Begitulah dengan sabar Ia memberikan jawaban atas setiap pertanyaanku sehingga bisa meyakinkanku sekaligus membuat satu persatu kekuatiranku lenyap.
“Gimana? Sudah pahamkan?”tanyanya setelah penjelasan tadi.
Aku mengangguk kecil.
“Berarti ndak kuatir lagi digituin sama mang Gimin kan?”susulnya lagi.
Aku ragu. Antara mau dan takut. Tapi sepertinya mbak Narti mengerti akan kegamangan hatiku.
“Ya udah, kalau masih belum berani juga, tak cobain yang lain aja dulu. Gimana? Mau?”
“Y.ang lain? Apaa mbak?”tanyaku
“Alaaa cobain ajah dulu. Pokoknya asyik deh, mbak yakin non pasti suka”
Aku melirik ke arah mang Gimin. Kulihat si tua itu tersenyum lebar. Sepertinya dia juga berharap sekali hal itu terlaksana. Pandanganku kembali ke mbak Narti. Dan akhirnya dengan malu-malu aku anggukan kepalaku. Bersamaan dengan itu kudengar suara terkekeh mang Gimin.
“Tapi mbak-nya jangan kemana-mana!”pintaku.
“Iya mbak tetep di sini nemenin si non. Nah sekarang mbak bantuin ngebuka bajunya ya non?” ujar mbak Narti meminta izinku.
“Mbak ajah duluan” pintaku. Mbak Narti menuruti. Setelah ia selesai dengan dirinya. Lalu ia membukakan pakaianku.
“Arggg!! Mamang jangan lihat kemari!”protesku karena malu.
“Nantikan juga mamang ngeliat semuanya, non”jawab mang Gimin.
“Kalau gitu ngga jadi ajah!. Sabrina ngga mau!” rajukku
“Kangg!!”hardik mbak Narti ke Mang Gimin meminta suaminya itu agar bersikap kooperatif.
“Iya iya” jawab mang Gimin lalu memutar tubuhnya membelakangi kami.
Satu persatu pakaianku terlepas hingga akhirnya aku benar-benar telanjang.
“Duduk di sini non” kata mbak Narti membimbingku duduk di pinggir dipan.
Ia sendiri duduk di sebelahku.Setelah itu di atas pangkuanku ia letakan sebuah bantal. Hatiku langsungkebat-kebit. Aku tahu apa yang bakal ia lakukan! Ini-kan posisi duduknya mbak Narti seperti yang kulihat beberapa malam yang lalu di saat mang Gimin menetek padanya! Argggg!..Jangan-jangan dia juga akan melakukan hal yang sama padaku.
“Kang. Ayo rebahan.” Ujar mbak Narti kepada suaminya.
Mang Gimin melakukan apa yang mbak Narti barusan katakan padanya. Senyum mesumnya mengembang menghiasi pipinya yang peot. Duhh! Betapa malunya aku sehingga kupejamkan mataku. Bayangkan ini pertama kalinya dalam hidupku aku berbugil dihadapan seorang lelaki.
“Wuiihh! putihh tenann. Beda banget sama kamu, Nar” ujar mang Gimin mengomentari keindahan yang tersaji di hadapannya itu..
“Hi hi hi Ini kan barang indooo, kang” timpal mbak Narti.
Ia biarkan suaminya memandang puas-puas seluruh aset pribadiku yang memang lebih banyakan bulenya ketimbang melayunya itu. Jelas sekali gen papiku begitu kuatnya sehingga kemungkinan hanya sepuluh persen saja gen mami yang ada pada diriku. Detik demi detik berlalu. Jantungku berdetak jauh lebih cepat dari biasanya. Tubuhku terasa panas dingin seolah aliran daraku beredar tak normal. Mataku masih terpejam rapat. Menanti sesuatu yang akan terjadi pada diriku dengan perasaan tak menentu. Jemari tangan kananku menggenggam erat jemari mbak Narti. Sementara tangan yang satunya mencengram kain seprey. Tak lama kemudian aku merasakan sebuah tekanan pada bantal di atas pangkuanku menandakan mang Gimin sudah menaruh kepalanya di situ. Lalu....kurasakan sesuatu yang basah menyentuh cepat puting payudara kiriku.
AWWWW!! Aku terpekik dan terlonjak kaget! Mataku spontan membeliak. Dan berusaha melihat apa yang terjadi.
Ternyata yang mencoel putik susuku adalah ujung lidahnya mang Gimin. meski cuma menyapu selintas tapi efek yang ditimbulkannya sungguh dasyat bagiku! Gelii itu...! Sampai sekarangpun masih meninggalkan kesan yang mendalam di hatiku. Tentu saja itu merupakan sentuhan secara seksual pertama yang kudapat dari seorang lelaki. Namun belum lagi sempat aku bernapas lega ia sudah melakukannya lagi. Kali ini lidahnya menyapu lebih perlahan. Tapi ia menekan lebih kuat. Ampunnnn geliiinyaa!...Napasku sampai tersengal-sengal. Kulihat mang Gimin menatapku sambil nyengir memperlihatkan deret gusi tanpa giginya. Tiba-tiba tanpa peringatan ia memagut puting susuku bagai seekor ular. Dan hanya dalam hitungan sepersekian detik ia telah menyedotnya kuat-kuat.
“AWWWWWW..Maangggg! heggggggg!”aku terpekik tertahan.
Seketika itu jiwakupun seakan ikut tersedot melalui putingku itu. Ternyata benar dugaanku tadi. Mang Gimin menetek padaku! Rasanya...tak dapat kucapkan dengan kata-kata! Punggungku melengkung karena aku tak kuat melawan sengatan rasa geli yang bercampur dengan kenikmatan itu. Sementara aku harus menggigit bibirku sendiri.
Secara naluriah tangan kiriku meraih kepala mang Gimin dan menekannya ke arah dadaku lebih erat lagi. Kejadian itu baru berlangsung kira-kira satu menitan ketika...Plok! Tiba-tiba hisapan mang Gimin terlepas sekaligus memutus kenikmatan yang sedang kurasakan. Ternyata mbak Narti-lah yang memisahkan putingku dari bibir mang Gimin. Ada apa gerangan?
“Gimana rasanya?” tanya mbak Narti sambil tersenyum.
“G..geli banget mbak” bisikku malu.
“Tapi enak juga kan?”
“He eh....”
Jelas! Gerutuku dalam hati. Mana mungkin aku menyangkal kenikmatan yang terjadi pada ‘first contact’ tadi. Lihat saja putingku sampai berdiri sepejal karet.
“Mau di terusin lagi ndak?” Tanya mbak Narti tersenyum geli.Entah ia bermaksud menggodaku atau karena ia benar-benar ingin tahu pendapatku. Padahal jelas ia pasti tahu jawabanku. Akupun mengangguk.
“Kalau begitu non rebahan aja di kasur. Biar lebih nyaman” Ujar Mbak Narti membimbingku naik ke tengah dipan.
Kali ini aku dimintanya terlentang. Mang Gimin juga ikut merayap naik. Akhirnya payudaraku yang satunya lagi ia’perawani’ juga. Aku tahu aku telah melakukan sesuatu yang tabu. Melanggar apa yang telah selama ini mami pesankan kepadaku. Aku telah membiarkan seorang lelaki yang bukan suamiku menyentuh diriku secara seksual. Tetapi aku sungguh tak mampu mencegah hasratku. Dorongan buat merasakan itu begitu kuatnya. Dan lelaki yang beruntung itu kebetulan adalah mang Gimin, yang berstatus hanya sebagai sopir keluargaku, suaminya mbak Narti.Seorang pria tua, berkulit hitam legam, bertubuh pendek dan kerempeng. Sungguh tak ada sedikitpun dari dirinya yang sepadan dengan seluruh kebaikan yang dianugrahkan pada diriku. Aku hanya bisa melingkarkan kedua tanganku ke belakang kepalanya secara erat sambil merintih-rintih. Apa dayaku dibawah kendali seorang pria yang pernah belasan kali menikah dan begitu berpengalaman dalam hal ini. Ia pasti tahu sekali bagaimana menaklukan gadis bau kencur seperti aku melalui putting susuku. Pertama-tama ia akan melakukan hisapan kuat dan bergelombang. Lalu lidahnya berputar di dalam ke-vakuman rongga mulutnya, berotasi menyapu setiap titik-titik sensitif yang ada di seputar putingku.
“Argghhhhh..mamangggg”. aku terpekik lirih setiap kali sirkulasi kemesraan itu ia akhiri dengan sebuah gigitan dari gusinya yang tak bergigi itu. Mulutnya yang tak begigi itu ternyata membuat daya hisapnya menjadi semakin luar biasa.
Mbak Narti tak lagi ikut campur tangan. Kami dibiarkannya berpuas-puas menikmati sesi menyusu kali ini.Mang Gimin terus melakoninya semua itu selama lima belas menit ke depan.
Plok! Akhirnya hisapan mang Gimin terlepas dengan meninggalkan ketegangan dan bias-bias merah disekitar putingku. Tapi wajahnya tak menjauh dari tubuhku. Bibir keriput itu mencecarkan kecupan-kecupan di seputar dadaku. Bibirnya bergerak bagai seekor siput yang sedang merayap itu perlahan turun menuju ke perutku, lalu ke bagian pinggulku dan semakin turun dan semakin ke bawah hingga ke bagian yang paling intim milikku..
“Buka pahanya, non…”bisik mbak Narti padaku..
“Mamang mau ngapainn sichh., mbakkk?”tanyaku malu. Mengetahui wajah mang Gimin sudah berada tepat di depan selangkanganku.
“Sttt…non merem ajaa…nanti pasti enakk” bisiknya lagi.
Lalu akupun kembali memejamkan mataku. Beberapa detik kemudian aku tersentak kaget ketika kurasakan sentuhan sebuah benda basah menyapu secara vertical selangkanganku dari bagian bawah ke bagian atas.
“Oughhhhh!” rintihku mengelinjang oleh rasa geli bercampur dengan nikmat yang langsung menyengat selangkanganku saat itu.
Kepalaku terangkat dan mataku yang tadinya terpejam membuka lebar lalu berotasi memandang ke arah sumber nikmat tersebut.
“Maangggg itu kannn bekas Sabrinaa pipisss!” pekikku dalam nikmat bercampur malu setelah tahu apa yang tengah ia lakukan di bawah situ.
Tetapi mang Gimin tetap asyik melumati vaginaku tanpa rasa jijik. Tangannya menahan kedua pahaku agar tetap terpentang lebar. Aku hanya sempat menyaksikan hal itu beberapa saat sebelum akhirnya kepalaku kembali terhempas ke kasur dengan mata terpejam.
“M..bakkkk…Ouhhhhh!” kali ini rintihanku kutujukan pada mbak Narti.
“Hi hi hi apa tadi mbak bilang…Enak banget kan, noon?… ”terdengar suara dan tawa khas mbak Narti menari-nari di telingaku.
Aku yakin ia tak butuh jawaban dariku. Ia tahu apa yang sedang kurasakan saat ini.Sesudahnya aku hanya bisa merintih dan menikmati ulah lidahmang Gimin yang tengah menari-nari dengan lincah di bagian kewanitaanku. Nyaris sepuluh menit ia melakukannya sampai akhirnya aku kembali terpekik dibuatnya.
“AAARRRGGHHHHH!!!” rasa itu.... bukan kepalang nikmatnya! Sungguh tak terlukiskan. Seakan ada sesuatu yang meletus dari dalam selangkanganku. Pinggulku sampai terangkat saat itu terjadi. Tanpa sadar aku menjepit kepala mang Gimin dengan kedua pahaku. Sementara kesepuluh jemariku mencengram erat kain seprey. Itu adalah orgasme yang pertama kali terjadi dalam hidupku.
Kenikmatan itu mungkin hanya berlangsung kurang dari satu menit namun bagaikan berabad-abad lamanya.Pinggulku akhirnya jatuh kembali ke kasur. Perlahan rasa enak itu pergi berganti dengan kenyamanan. Rasa nikmat yang tadi itu.... sungguh tak dapat kulukiskan dengan kata-kata. Begitu mempersona! Aku yakin itulah yang dinamakan dengan orgasme itu dan tentu saja aku ingin mengalaminya lagi! Tetapi sepertinya harapanku barusan tak bakal terjadi karena mang Gimin telah mengangkat kepalanya keluar dari wilayah selangkanganku.
“He he udah basah nih, nduk.” ujarnya pada mbak Narti sambil terkekeh-kekeh.
“Sebentar, kang. Tak tanya si non dulu mau diterusin apa ndak” ujar mbak Narti.
Hatiku kembali berdebar mendengar ucapannya. Mang Gimin sudah netek, juga sudah menjilati ‘anu’ku. Berarti ini sudah waktunya buat yang satu ‘itu’.
“Gimana non? Mau ya dicelupin sekarang? Baru pake lidah ajah udah sebegitu enaknya apalagi kalau pake penis” Tanya mbak Narti padaku. Benar saja dugaanku tadi.Mbak Narti menanti kepastian dariku sebelum melangkah lebih jauh.
“Tapii..beneran ga sampe pecah kan, mbak?” tanyaku masih ragu sambil mempertanyakan kembali jaminan darinya.
“Mbak jamin, Non. Cuma dicelupin ajah, kok! Mau yaa?”
Akhirnya aku-pun mengangguk lemah karena tujuanku kemari toh memang buat mencoba itu. Sejenak kudengar mbak Narti dan mang Gimin berdialog serius dalam bahasa daerah asal mereka. Tentu saja aku tak mengerti apa yang mereka bicarakan. Sepertinya terjadi perdebatan kecil di situ. Entah ada apa. Kemungkinan ada sesuatu yang mang Gimin inginkan namun mbak Narti keberatan.
“Kalau kakang ndak mau nurut yah udah! Lebih baik batal saja!” terdengar suara mbak Narti meninggi.
“Iya..iyaa! tadi itu aku kan cuma usul, nduk. Kalau tidak setuju ya ndak apa-apa”timpal mang Gimin.Sepertinya dia yang harus mengalah.
“Ada apa sih, mbak?” tanyaku heran.
“Ndak apa-apa non. Ayo! Si non rebahnya nyamping biar mang Gimin di belakang non”
Aku mengikuti petunjuk mbak Narti meski hatiku masih bertanya-tanya apa yang mereka ributkan barusan. Lalu setelah itu mang Gimin-pun rebah menyamping di belakangku. Tangan kanannya mengangkat paha kananku dan menopangnya agar tak jatuh.
“Gini toh, nduk?” tanya mang Gimin pada istrinya.
“Ya gitu..Pinggul kakang turunin sedikit” ujar mbak Narti. Lalu mang Gimin menggeser sedikit posisi tubuhnya lebih rendah dari pinggulku.
“Ya segitu, kang. Nah..si Non lemesin aja badannya.Ndak usah tegang, ya” ujar mbak Narti kali ini kepadaku.
Jantungku berdetak cepat. Kali ini lebih cepat dari sebelumnya.Perasaanku bercampur aduk menanti saat-saat mendebarkan itu. Sebentar lagi aku akan merasakan alat kelaminnya lelaki masuk ke dalam kemaluanku.
“Uhhh!” desahku lirih tatkala sesuatu yang hangat melintasi kedua pahaku hingga menyentuh bibir vaginaku. Aku tahu itu adalah penisnya mang Gimin.
Lep! dengan satu hentakan benda itu berusaha menerobos masuk...
“Oughhh” aku merintih. Ternyata cucukan pertamanya meleset dan hanya menyerempet klitorisku. Kegagalan pertama semakin membuat mang Gimin bernapsu. Ia kembali mengambil ancang-ancang. Mencoba melakukan tusukan ke dua yang lebih akurat. Lep! kali inipun dia melesat. Penisnya malah nyelonong ke arah belakang dan menghantam pantatku!.
“Uuuuu...Perett baget sih!”gerutu mang Gimin karena sodokannya selalu meleset.
Ternyata meskipun vaginaku sudah basah total namun ia masih saja kesulitan buat mempenetrasiku. Mungkin juga karena aku masih perawan sehingga vaginaku masih sangat rapat. Melihat situasi itu mbak Narti segera bertindak.
“Sabaran sedikit toh kang. Ndak bakalan bisa masuk kalau kakang grasak-grusuk begitu!. Sini biar kubantu!” katanya gemas.
Dengan jemarinya ia rentangkan bibir vaginaku. Sementara tangannya yang lain meraih batang penis mang Gimin dan mengarahkannya ke posisi yang tepat.
“Coba tekann sedikitt….Kangg ….” ujarnya pada mang Gimin. Mang Gimin mencoba kembali menyentak kan pinggulnya. Dan……
“AWWWWW..mmaaaanggg.!.” aku merintih ketika sesuatu yang asing....begitu besar dan bertektur membuat bibir vaginaku merentang lebar.Dan..
CLEPP! Ujung penis mang Gimin yang bulat besar seperti jamur itu sepertinya berhasil masuk! Aku seakan tak percaya apa yang telah kulakukan ini. Aku telah membiarkan kemaluan seorang lelaki memasuki alat vitalku! Tapi ia belum berhenti. Dapat kurasakan secara perlahan sekali ia terus memasukiku mili demi mili. Merentangkanku... Menyentuhku..menyelusup ke tempat yang belum seorangpun termasuk aku menjamahnya.
“Uhhhhhhgg!” Aku meringis. Sementara alisku yang mengerenyit.
“Sakit..?” tanya mbak Narti kepadaku. Tentu saja ia bisa mengetahuinya dari ekspresi wajahku.
“Iya mbak... tapi cuma sedikit!”
“Ndak pa pa itu biasa. Sebentar lagi juga enak”
Benar kata mbak Narti. Tak perlu menunggu lama. Rasa ngilu yang sempat kurasakan tadi berangsur-angsur pudar. Seiring waktu rasa geli bercampur nikmat mulai muncul. Bahkan semakin lama terasa semakin menyengat sekaligus mengubur habis rasa ngilu tadi. Aku sendiri tak menduga jika rasa nikmat yang ditimbulkannya ternyata begitu dasyat. Bahkan jauh lebih dasyat dari jilatan yang mang Gimin lakukan tadi. Tektur daging penisnya begitu kentara terasa menyentuh seluruh dinding pangkal vaginaku yang dipenuhi oleh jutaan picu bom kenikmatan.
“Wuiiihh.. ternyata masih bisa masuuuuk” kudengar mang Gimin menggumam, rupanya ia masih terus mencoba melesakkan penisnya jauh lebih dalam.
Srtttttt!
“Aduuuuhh… duhh!!” Kali ini akumengaduh kesakitandi tengah-tengah kenikmatan itu.
“Kang! Kang! Cukupp segitu aja!. Ntar perawannya si non robek. Itu juga sudah sepertiganya punya kakang yang masuk!” ujar mbak Narti memperingatkan mang Gimin agar tak terlalu memaksakan dirinya. Sepertinya ujung penis mang Gimin memang sudah menyentuh dan menekan selaput daraku.
“Sebaiknya non rapetin pahanya biar bisa ngejepit sisa penis mang Gimin” mbak Narti terus memberikan instruksi kepada kami berdua.
Kedua kaki mang Gimin yang kurus dan berbulu itu diapitkan ke pinggulku. Aku baru mengerti mengapa ia harus berada di posisi belakang bukannya di depan seperti saat ia bersetubuh dengan mbak Narti. Dalam posisi itu penis mang Gimin akan selalu berada di jalur yang tepat sehingga tak bakal mudah terlepas sekaligus mencegah penetrasinya terlalu jauh ke dalam karena tubuhnya akan terganjal oleh pantatku.
“Nah, kang. Kocokin...tapi pelan-pelan dulu...”
Mang Gimin mulai menggerakan pinggulnya mundur maju. Kecepatannya sungguh lambat namun ia lakukan dengan kedalaman terukur secara konstan. Sesekali penisnya terlepas. Tapi mbak Narti dengan sigap menuntunnya balik masuk ke dalam vaginaku. Kedua tangan Mang Gimin juga tidak tinggal diam. Yang satu tetap memegang pinggulku sementara yang satunya lagi memainkan clitorisku.
“AAARRRGHHHHHHH!” aku mengerang.
“Enak non?” tanya mang Gimin.
“I.yyaa Maang enakk..bangett!!”rintihku tanpa malu mengakuinya.
Rasa ingin tahuku sungguh setimpal dengan resiko yang kuambil. Tak kusangka baru dicocol sedikit tapi nikmatnya sudah seperti ini apalagi jika di masukan semua pikirku saat itu. Sempat aku hampir dikuasai secara penuh oleh gairahku. Untungnya ditengah badai kenikmatan itu akal sehatku ternyata masih mampu diandalkan dan mencegahku agar tak kebablasan. Ya! Aku tak boleh melampaui batas. Jika aku masih ingin tetap PERAWAN! Apa yang telah kulakukan ini sudah maksimal. Demikian ketetapan dan batasan yang kutanamkan dalam hatiku.
“Heegg..peretttnyaa!...” kembali kudengar keluhan mang Gimin. Kutahu ia juga pasti sedang keenakan sebagaimana halnya diriku.
“Ti..ngecrot di dalemm apa di luar, nihh? Kakang sudah ndak kuat lagi!.”Tanya mang Gimin buru-buru sambil menoleh pada istrinya.
“Lho bagaimana kakang ini?! Baru juga dimasukin sudah mau muntah!”gerutu mbak Narti.
“Eng anu. Soalnya tempik si non kuat banget ngemutnya...” ujar mang Gimin berkilah.
“Ntar! Di tahan dulu!” cegah mbak Narti lalu ia beralih kepadaku.
“si Non kapan dapet mens-nya?”
“Sepuluh hari lagiii mbakk…” jawabku heran di sela-sela deraan nikmat yang menyengat itu.
“Kecrotin aja di dalem kang. Masih aman kok.” ujar mbak Narti pada mang Gimin. Aku jadi terkejut mendengar omongan mereka.
“Mbaaakk..?”rintihku lirih.
“Ndak apa-apa non. Mbak jamin ndak bakalan hamil kok” ujar mbak Narti kembali menenangkanku. Sepertinya ia memang selalu mengerti akan kekuatiranku sekaligus mampu membuat hatiku tenang.
“Kang! Kalau bisa sih bikin non Sabrina ngecrot barengbiar bukan cuma kakang yang dapet enaknya” oceh mbak Narti pada mang Gimin.
“Iyaa…inii juga sedangg di usahainnn…”jawab mang Gimin terbata-bata. Tiba-tiba gerakan pinggulnya yang tadinya lambat mendadak semakin cepat. Ulahnya itu semakin membuat rasa geli nikmat pada mulut kemaluanku semakin tak tertahankan olehku.Dalam waktu singkat aku kembali terpekik.
“AAAAWWWWWWWW….MAMAAAAANGGG!!”
Mang Gimin berhasil membuatku kembali orgasme! Letupan kali ini sungguh tak terkira nikmatnya. Bahkan jauh lebih nikmat ketimbang dari orgasme yang dihasilkan oleh jilatan mang Gimin. Tubuhku mengejang disertai hilangnya kesadaranku saat hal itu terjadi. Kesepuluh jemariku secara spontan mencengram paha mang Gimin yang keriput dengan kuat. Sementara itu mang Gimin sendiri menggeram hebat.
“GRRRHHHAA!! Oeenakk tenaaann!!!”
Seper sekian detik kemudian kurasakan sesuatu memancar kuat dari ujung penisnya.
CROOOOTTTTT!!! Itu pasti ‘pipis enak’nya mang Gimin seperti yang di maksudkan oleh mbak Narti. CROOTTT!!!....CROOOTTTTTTT!! Dia terus saja menembakan pipisnya ke dalam punyaku. Rasanya hangat. Penis mang Gimin berdenyut-denyut dengan kuat....mengempis.. mengembang seakan hendak meletus di setiap pancaran yang terjadi. Setelah lebih satu menit berlalu barulah semua proses orgasmeku berakhir. Aku masih memejamkan mataku mencoba menstabilkan nafasku sambil meresapi sisa-sisa kenikmatan hebat itu.
“Gimana, enak kaaan?” tanya mbak Narti. Kudengar juga suara tawa mang Gimin terkekeh-kekeh. Sepertinya dia bangga sekali berhasil membuatku mencapai kepuasan tertinggi secara bersamaan barusan.
“Iyahh mbakk..enak sekaliii” jawabku masih tersengal-sengal. Ini adalah seks pertamaku. Dan aku merasa beruntung dapat merasakan penis lelaki tanpa harus kehilangan keperawananku.
“Eh, Kang cabut dulu!”ujar mbak Narti tiba-tiba sambil mendorong perut suaminya menjauh sehingga penis mang Gimin tercabut lepas dari vaginaku.
Aku heran ketika Mbak Narti menahan kangkanganku. Ia mendekatkan wajahnya ke situ.dibukanya bibir vaginaku yang masih setengah menganga karena baru saja dimasuki alat vital suaminya. Dengan telaten di singkirkan-nya lelehan sperma mang Gimin yang menutupi mulut vaginaku.
“Ada apa sih mbak?’
“Hmm… amannn!”katanya lega. Setelahnya aku baru mengerti ternyata ia tengah memeriksa selaput daraku dan memastikannya masih utuh.
“Lagi ahh!” ujar mang Gimin langsung menjejalkan penisnya kembali.
“Awwwww mamaangggg” akupun terpekik lirih saat menerima hujamannya. Vaginaku menjadi sangat sensitive setelah orgasme tadi sehingga rasa gatal dan geli begitu menjadi-jadi. Kamipun mengulangi apa yang sudah kami lakukan tadi. Mang Gimin banyak melakukan hal-hal baru kali ini. Ia mengecupi seputar leherku. Tak hanya itu aku terpaksa menerima ciumannya pada bibirku untuk yang pertama kali. Kurang dari satu jam seluruh tubuhku sudah ia jamahi...ia nodai kecuali satu tempat yaitu liang senggamaku mulai dari bagian selaput dara hingga ke arah rahimku. Di sesi yang terakhir keintiman kami berlangsung dalam waktu yang sangat lama namun begitu aku belum juga mendapatkan orgasmeku. Pasalnya mang Gimin menjahiliku. Ia kerap menunda-nunda setiap kali aku akan sampai pada orgasmeku dengan berulang kali mencabut lepas penisnya. Tentu saja ulahnya itu sungguh membuatku menderita.
“Mamangggg…..tusukinnn!” rengekku tak tahan lagi karena ingin ia segera menuntaskannya..
“Udahh kang! Jangan di godain terus. Kasihan non Sabrina”Kata mbak Narti agak kesal dan bosan karena harus terus-terusan mengembalikan penis mang Gimin ke posisi yang benar.
“Iyaahhh.. ini kakang juga sudah mau muncrattt!”jawab mang Gimin terbata-bata. Lalu ia tusukan penisnya.
“UGHHHHHHH!!!!!”
Akhirnya aku mendapatkan apa yang kumau. Mang Gimin tak lagi melepas-lepas kepala penisnya. Benda itu terus di biarkan menancap ketat pada bagian pangkal vaginaku..mengkedut-kedutkannya kuat-kuat...hingga aku mencapai orgasmeku.
“AARRRRGHHHH MAAANGGG!!!!!”pekikku kali membahana memenuhi kamar sempit itu. Aku merasakan akibat kejahilan yang dilakukannya kepadaku tadi. Aku justru mendapatkan orgasme paling enak ketimbang dua sesi sebelumnya. Jemariku mencengkram pahanya kuat-kuat ketika hal itu terjadi.
“GRAAAAAHEEGGGG!!!” Mang Gimin menggeram jantan. Ia kembali melepas ‘pipis enaknya’ bersamaan dengan kenikmatanku.
CROOOOTTT!!!..... CRRROOOOOTTTTT!!......CRRROOOTTTTT!!
Uuugghh! Nikmatnya. Setiap hentakan benih mang Gimin terespon cepat oleh syaraf-syaraf kewanitaanku. Membuat diriku hilang kesadaran.. Tubuhku seakan melambung ke atas gumpalan awan. Seakan semuanya berubah menjadi putih. Menit demi menit berlalu kesadaranku berangsur-angsur pulih. Namun kini yang tersisa adalah rasa lelah dan kantuk. Ketika aku membuka mataku kulihat wajah mbak Narti di hadapanku sambil tersenyum kepadaku.
“Gimana? Masih pingin lagi?” tanyanya. Belum lagi aku menjawab seketika itu juga kurasakan penis mang Gimin kembali bergerak maju mundur menyodok-nyodok vaginaku. Sepertinya ia belum puas jugamenghajarku.
“Mbakk.. Sabrinaa ngantukk...”jawabku lirih diantara rasa nikmat akibat gerakan mang Gimin dan rasa kantuk
“Kang..sudah dulu. Sepertinya non Sabrina sudah kecapekan.”
“Sekali lagi ajahh..uhh uhh” jawab mang Gimin masih secara intens memaju mundurkan pinggulnya. Ia nampaknya masih bersemangat sekali padahal ia juga sudah berkali-kali pipis enak tadi.
“Kang! Kasihan si non. Diakan masih harus ke sekolah besok...kalau kakang mau diterusin sama saya saja!.”lagi-lagi Mbak Narti mengingatkan mang Gimin.
“Iya juga he he he” ujar mang Gimin setelah melihat kondisiku yang terkulai tanpa daya.
Lalu Ia menghentikan sodokannya namun ujung penisnya tetap ia biarkan mengeram di dalam vaginaku. Ternyata melakukan sebuah keintiman itu sangat meletihkan meski aktifitas peting tadi lebih banyak di motori oleh mang Gimin sementara aku sendiri di posisi yang pasif. Namun tenagaku benar-benar habis oleh kekejangan-kejangan saat orgasme melandaku secara nonstop tadi. Dan kini rasa kantuk yang kuat menyergapku seiring kenyamanan pasca-orgasme. Aku masih tetap tergolek menyamping di ranjang mereka di antara ke dua suami-istri itu. Mang Gimin mendekap pinggangku dari belakang sementara mbak Narti berada di depanku. Aku taklagimempunyai sisa tenaga buat berjalan menuju ke kamarku. Keinginanku saat ituhanya satu. Langsung tidur.
“Ndak pa pa. Tidur saja di sini non”ujar Mbak Narti sepertinya maklum dengan kondisiku. Ia lalu menutupkan selimut ketubuh telanjangku.
“Makasih mbak….” bisikku
“Iya” Mbak Narti tersenyum
“Sama mamang juga…”bisikku lagi.
“Tuh kang. Kakang dengar tidak?. Barusan si non bilang terima kasih ke kakang” Sambung mbak Narti. Mbak Narti membelai-belai rambutku sehingga kesadaranku semakin menjauh.
“Enak ya kang?” Tanya Narti kepada mang Gimin. Samar-samar aku masih dapat mendengar ia berdialog dengan suaminya.
“Jelas enak toh nduk. Sayangnya cuma bisa di celup.”
“Jangan serakah, kang! Di awal tadi kita sudah sepakat dan kakang juga sudah berjanjin dak bakal merusak ‘segel’-nya si non sebab walau bagaimanapun dia itu putri majikan kita. Sudah untung kakang bisa ngerasai segitu itu!” ujar Narti mengingatkan suaminya itu. Rupanya mang Gimin berhasrat menusukan penisnya secara penuh ke dalam vaginaku.
“Iya, kakang tahu itu. Kakang kan cuma berandai-andai toh nduk. Habis baru kali ini kakak begituan sama gadis seperti dia. Sudah molek, punya kulit putih bening, terus body ne manteb lagi!.” ujar mang Gimin merinci satu persatu apa saja yang dimiliki tubuhku yang membuatnya kagum.
“Iya. mirip bule banget nona kita ini ya, kang. Sampai jembutnya saja rada-rada pirang gitu” mbak Narti menimpali. Menit demi menit berlalu. Dan aku tak lagi bisa mendengar percakapan mereka ketika kantukku sudah menutup semua pancaindraku.
###########################-
Begitulah awal dari hubungan antara aku, mbak Narti dan mang Gimin. Pasangan suami istri itu telah membukakan gerbang kedewasaanku malam itu sekaligus merengut kesucianku meski secara teknis aku masih tetap perawan. Secara perlahan aku mulai mengerti soal keintiman di antara seorang lelaki dan wanita. Sejak kejadian malam itu pula tiada lagi hari dan malam tanpa petting. Aku sungguh menjadi ketagihan dan tak malumeminta kepada Mang Gimin untuk mengulangi kenikmatan tersebut.Bahkan kini kami melakukannya di dalam kamarku. Mbak Narti selalu mengikuti jadwal mens-ku secara ketat sehingga ia tahu persis kapan saat diriku sedang dalam keadaan subur atau tidak. Bila tengah datang masa suburku maka mang Gimin tak ia perbolehkan memuncratkan pejuhnya di dalam vaginaku. Mang Gimin hanya bisa menuntaskannya pada mbak Narti. Dengan bimbingan mbak Narti aku jadi mengenal banyak hal baru tentang seks. Seperti melakukan seks oral! Awalnya aku agak syok ketika melihat mbak Narti melahap penis mang Gimin tanpa rasa jijik seakan benda itu adalah sebuah lolipop yang lezat.Tetapi lama kelamaan aku justru ingin mencobanya. Hingga pada suatu malam kulihat mereka saling menjilat kemaluan satu sama lain. Mang Gimin terlentang di bawah tindihan tubuh mbak Narti tengah mengobok-obok vagina istrinya dengan mempergunakan jemari dan lidahnya. Sementara mbak Narti sendiri berada di atas tubuh mang Gimin dengan mulut terbuka lebar disesaki oleh penis suaminya itu.Mbak Narti bilang yang sedang mereka lakukan itu namanya posisi enam sembilan. Setelah mencontohkannya padaku akhirnya tiba giliranku buat mencobanya. Ternyata asyikk sekali. Kami dapat enaknya barengan. Selagi aku orgasme mang Gimin memuntahkan pejuhnya di mulutku. Malam itu untuk pertama kalinya aku mencicipi lendir enaknya mang Gimin. Dan menurutku itu lezat sekali. Satu hal lagi akupun jadi tahu persis soal anatomi alat vital lelaki. Ukuran penis mang Gimin ternyata punya panjang tujuh belas senti ketika iseng-isengaku ukur benda itu pakai mistar sedangkan diameternya lebih besar sedikit dari lingkaran yang dibuat oleh ibu jari dan telunjukku. Kata mbak Narti penis mang Gimin lebih panjang dari penis pacarnya terdahulu. Mang Gimin juga memiliki stamina bak kuda liar meski mungkin orang bisa tertipu oleh penampilan fisiknya. Dan yang teristimewa dari mang Gimin sekaligus membuat mbak Narti tergila-gila padanya adalah otot-otot Tantra-nya yang kuat. Penisnya yang tengah mengacung akan melenting kuat ke atas dari posisi sedikit menggantung hingga menghantam perutnya bila ia kedutkan. Bayangkan...betapa nikmatnya bila benda itu di hentakan kuat-kuat seperti itu saat dia berada di dalam liang senggama. Aku sendiri sudah pernah merasakan kehebatan mang Gimin itu saat ia mempetingku. Semenjak itu pula aku jadi tak lagi bisa menerima tamu cowok di rumah. Sebagai seorang gadis rupawan sekaligus merupakan primadona di sekolahku jelas banyak sekali pemuda yang ingin mendekatiku. Tetapi mereka semua selalu berhasil dihalau oleh mang Gimin sekalipun mereka cuma beralasan ingin mengerjakan tugas kelompok. Meski demikian aku tak ambil pusing terhadap sikap protektifnya. Entah mengapa semenjak dicabulinya aku sendiri tak merasa tertarik bergaul dengan pria lain apalagi sampai menjalin hubungan cinta-cintaan. Bagiku mang Gimin seorang sudah sangat cukup komplit. Dia supirku, teman bercandaku, pelindungku sekaligus kekasihku.
“Dasar cowok kota bisanya cuma ngejual tampang sama ngehambur-hamburin duit orang tua saja!“ ocehnya pada suatu sore setelah mengusir seorang cowok teman sekelasku yang mencariku.
“Kang..kang! Biarkan saja orang mau bertamu. Lagian wajar saja banyak lelaki yang dateng. Lah wong Nona kita itu emang ayu kok!”
“Kamu itu ndak ngerti, Nar!. Aku cuma mau melindungi nona kita dari para lelaki iseng”
“Dari mana kakang tahu kalau mereka itu lelaki iseng?”
“Ya dari nganu…eng..yaa itu!” ujar mang Gimin tak bisa menjemukan jawaban yang pasti.
“Itu! Nganu! Bilang saja kalau kakang cemburu sama mereka. Takut nona kita kecantol sama salah satu dari mereka. Ya kan?!”cibir mbak Narti.
Mang Gimin hanya nyengir malu sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal karena mbak Narti mampu menebak pikirannya dengan tepat.Sementara aku sendiri tertawa geli mendengar perdebatan kedua suami-istri itu.
“Iya sih, Nar. Aku memang cemburu sama pemuda-pemuda itu...” masih kudengar ucapan bernada lesu mang Gimin kepada mbak Narti.
Ia letakan sapu lidinya dan duduk di atas sebuah batu. Mbak Narti menggeleng-gelengkan kepala melihat suami tuanya itu bertingkah bagai seorang pemuda yang tengah kasmaran itu.
“Kang! Kakang itu ngaca dulu dong!. Kakang ndak bisa berharap memiliki dia seperti aku dan istri-istri kakang dulu. Bagaimanapun juga non Sabrina itu pantas mendapatkan jodoh yang sepadan buatnya. Dan suatu hari nanti hal itu pasti akan datang juga.” Timpal mbak Narti. Jelas pembicaraan itu tengah membahas diriku.
“Aku tahu nduk. Tapi... setidaknya aku pingin sekali jadi yang ‘pertama’ buat non Sabrina, nduk! Nona kita itu membuat aku serasa muda kembali”
“Kubur saja angan-anganmu itu, kang! Bukankah sudah dia katakan jika dia ndak mau memberikan yang satu itu kepada kakang. Justru sebaliknya saya kuatir non Sabrina bakal membenci kakang jika kakang nekat melakukannya! Saya heran sekali kakang ndak pernah puas. Masih untung saya mau membantu hasrat terpendam kakang itu ”
“Aku bakal menunggu saat yang tepat nduk. Sampai dia merasa ‘siap’ dulu untuk yang ‘satu’ itu.”
“Hhhhhhh... Terserahkang Gimin! Pokoknya aku sudah mengingatkan!. Kalau ada apa-apa kang Gimin tanggung sendiri resikonya.”
Pembicaraan mereka berhenti sampai di situ. Aku mengerti dengan maksud pembicaraan mereka. Rupanya hasrat besar mang Gimin kepadaku sudah ada sejak lama. Kesempatan itu baru bisa terlaksana akibat rasa penasaranku dan atas batuan mbak Narti. Namun mbak Narti menghargai prinsip dan keinginanku untuk tetap mempertahankan keperawananku. Sebenarnya aku sendiri terkadang kepingin juga merasakan bila vaginaku dipenetrasi secara penuh oleh penisnya mang Gimin. Dan aku tahu kenikmatannya pasti jauh lebih besar ketimbang cuma melakukan peting seperti yang sudah aku alami. Apalagi setiap menyaksikan persetubuhan panas mereka berdua. Pekik-pekik kenikmatan mbak Narti begitu mendebarkan. Aku ingin juga seperti dia.. Merasakan kedutan-kedutan besar itu jauh di dalam relung kewanitaanku.. Namun ucapan mami tetap saja membuatku takut melangkah lebih jauh. Aku tak ingin bila dicampakan oleh lelaki yang menjadi suamiku kelak bila ia tahu aku sudah tidak perawan lagi di malam pertama.
#################################

Hubungan aneh diantara kami terus berjalan selama kira-kira beberapa bulan ke depan. Hingga semua ketenangan itu terganggu ketika pada suatu hari mbak Narti secara mendadak memaksa mang Gimin untuk menceraikannya. Aku juga kaget mendengar kabar itu. Selama ini tak pernah satu kalipun aku melihat mereka bertengkar. Jikapun ada itu hanya sebuah perdebatan kecil yang langsung terselesaikan saat itu juga. Aku berusaha mencari tahu penyebabnya dengan bertanya pada mang Gimin. Ia mengatakanbahwa mbak Narti telah main mata dengan mantan pacarnya di kampung dulu yang kini memiliki kehidupan sukses setelah menjadi TKI ke luar negeri. Baru kuketahui juga jika kepada lelaki itu pula mbak Narti menyerahkan keperawanannya. Mereka bahkan sudah berencana menikah setelah mbak Narti mendapatkan izin cerai darimang Gimin.Dengan berat hati mang Gimin terpaksa mengabulkannya. Ia tahu mbak Narti tetap juga akan pergi meski tak ia ceraikan.
"Mbak?! Kenapa tega sekali terhadap Mamang?" protesku pada mbak Narti saat ia sedang mengemasi pakaiannya.
Sepertinya tidak tersinggung dengan ucapanku. Ia hanya tersenyum getir.
"Non...Mang Gimin adalah pria yang baik. Bersamanya hidupku penuh dengan gairah meledak-ledak. Tapi dia bukanlah type seorang suami apalagi bapak yang ideal bagi sebuah keluarga. Umur mbak semakin hari semakin tua. Seorang wanita hanya memiliki kesempatan selagi ia masih muda. Dan mbak tak ingin semuanya menjadi terlambat." Pada saat itu aku masih belum mengerti dengan ucapannya itu. Baru sekarang aku paham maksud mbak Narti kala itu.
“Saya tidak paham maksud, mbak?”
"Hhhhhhh.....” kudengar ia menghela napas “Kamu ini masih bau kencur, non. Kelak kamu akan mengerti maksudku”
"Tapi kasihan mamang sendirian..."ujarku. Aku masih belum menerima ia meninggalkan mang Gimin. Aku mengganggap mbak Narti telah salah melakukan hal ini. Dan aku sungguh berharap ia mau berubah pikiran dan mengurungkan kepergiannya.
“Percayalah....meski mbak pergi namun mang Gimin ndak bakal kesepian sebab dia sudah punya pengganti diri mbak yang jauh lebih baik"
"Ganti? Siapa yang Mbak maksud?" tanyaku. Aku sempat mengira kemungkinan yang dimaksudkan mbak Narti itu adalah salah satu istri mang Gimin yang lain.
"Ya orangnya itu kamuu toh nduk!"jawab Mbak Narti sambil mencubit pipiku gemas
"A aaku, mbak?"
“Iya kamu. Hi hi hi” ujarnya sambil memperdengarkan tawa khas-nya.
Aku justru bertambah bingung namunaku tak tahu harus berkata apa-apa lagi saat ia ‘mengangkat kopernya.
Nah Non, mbak pamit dulu sekarang. Dan mbak titip mang Gimin padamu,ya...” ujarnya dengan mata berkaca-kaca. Aku ikut-ikutan jadi terharu. Tak kusangka ternyata mbak Narti masih memiliki perhatian terhadap mantan suami tuanya itu.
Keputusan mbak Narti benar-benar sudah bulat dan tak dapat dicegah lagi. Akhirnya dia pergi meninggalkan kami hari itu.