Senin, 01 Juni 2015

Adek Cewek yang Seksi 2

“Belum puas ya Kak...” bisik Vany. Aku mengangguk, masih dalam dekapan dadanya. Kuangkat wajahku sedikit, kutatap mata adikku.
“Van...”
“Hm?”
“Mau coba lagi nggak?”
“Apa... Anal?” tebaknya dengan tepat. Aku mengangguk.

Vany terlihat ragu.

“Hmm... Waktu itu sakit kan, Kak...”
“Ya... Makanya kamu rileks aja... Pasti bisa lah...” kataku.

Vany masih tampak ragu, tapi ia tetap mengangguk perlahan. Ia berbalik hingga telungkup di ranjang. Dadanya yang besar tampak sangat menggiurkan menempel di ranjangnya. Tanpa kusuruh, ia mengangkat pantatnya, nungging. Spermaku masih menetes keluar dari vaginanya. Seksi sekali. Aku berlutut di belakangnya. Kuletakkan penisku di atas pantat Vany, sementara kedua tanganku membelai pantatnya.

“Tau nggak... Pantat kamu tuh hampir semontok pantat Cherry...”
“Aaa... Bohoongg... Cherry kan pantatnya hampir kayak pantatnya Kim Kardashian,” ujarnya. Aku tertawa. Kuremas pantat adikku dengan gemas.
“Tapi kamu juga montok, tau...”

Aku mulai dengan membuka belahan pantatnya menggunakan kedua jempolku. Anusnya tampak merah dan sempit. Aku tahu ini akan sulit, dan tentunya akan cukup sakit bagi Vany. Tapi aku benar-benar sangat ingin meng-anal adikku ini. Kuletakkan penisku di anusnya dan mulai mendorongnya. Sulit sekali, sangat keras.

“Van... Rileks ya.. Kalo kamu tegang jadi semakin sakit,” kataku lembut.
“Iya, Kak...” jawabnya. Tapi aku dapat menangkap nada tegang dalam suaranya.

Aku berusaha lebih kuat menusukkan penisku. Vany mengejang. Aku sadar bahwa butuh pelumas agar lebih mudah memasukkannya. Kutusukkan penisku ke dalam vaginanya. Vany terkejut.

“NnhhH?! Kak.. Aahh... Katanya mau anal?”
“Iya... Kakak butuh ngelicinin penis kakak dulu biar gampang...” jawabku. Vany mengangguk. Kuhujam-hujamkan penisku di dalam vaginanya yang sangat becek. Setelah aku merasa cukup basah, kutarik penisku keluar dan kembali aku berusaha menusukkannya ke dalam anus Vany. Jempolku berusaha menarik anusnya melebar lebih kuat. Masih belum bisa. Aku kembali memasukkan penisku ke dalam vaginanya, melumasinya dengan cairan adikku, kemudian menariknya keluar dan kembali menusukkannya.

Sekitar lima kali aku melakukan ini saat aku merasakan anus Vany mulai mengendur. Aku rasa lama kelamaan Vany sudah dapat rileks dan tidak terlalu merasakan sakitnya. Kepala penisku mulai dapat masuk sedikit.

“Aah... Kak... Kak... Kayaknya udah bisa... Nnhh...” desah Vany.
“Ya... Siap-siap ya... Ini bakal sakit...” kataku mempersiapkannya.

Tiba-tiba, lebih cepat dari yang aku harapkan, kepala penisku menghujam masuk ke dalam anusnya. Seperti ada barikade yang runtuh.

“MMMMMHHHHHHHHH!!!!!!! MMMMHHHHH!!!!!” Vany menjerit-jerit tertahan dari balik bantal. Aku tahu seperti apa sakitnya pertama kali di-anal.
“Vann.. Van... Sshh... Tenang dulu, sayang... Bentar lagi sakitnya ilang...” bujukku. Aku mendekatkan wajahku ke kepalanya, kucium pipi adikku. Wajah Vany merah padam menahan sakit. Air mata meleleh dari matanya.

“Ooh... Kak... Kak itu bener-bener sakit... Hhh...” bisiknya. Aku mengangguk. Kukecup lagi pipinya, berusaha menenangkannya. Saat itu, perlahan-lahan aku mendorong penisku lebih dalam lagi ke dalam anusnya. Ini bahkan lebih sempit dari vagina Vany.

“Van... Pantat kamu... Sempit banget gila...” bisikku di telinganya. Vany tersenyum lemah di balik kesakitannya. Tapi sekarang wajahnya mulai tidak semerah tadi, dan sepertinya sakitnya sudah mulai menghilang.

“Kak... Ayo lanjut...” pinta Vany akhirnya. Aku mengangguk.

Perlahan, aku mulai menggerakkan penisku; menariknya setengah jalan keluar dari anus Vany, kemudian menghujamkannya lagi, semakin lama semakin cepat. Sempitnya luar biasa. Vany sepertinya semakin lama juga semakin menikmati.

“Nnhh... Nnn... Mmmhhh.. Kak... Enak juga... Loh... aAahh..” desahnya.
“Iyakan... Mmmhh... Mmh.. Oh Van ini bener-bener sempit...”
“Iya... Aahh... Punya Kakak.. Aahh... Jadi kerasa lebih gede lagi...”

Aku sangat menikmati meng-anal Vany, akhirnya. Sensasi pantatnya yang empuk yang menepuk-nepuk pinggangku melengkapi sempit anusnya yang luar biasa membungkus penisku. Aku menghujamkan penisku semakin kuat. Suara ‘plek-plek-plek-plek’ pantatnya yang menepuk-nepuk pinggangku terdengar semakin keras memenuhi kamar Vany malam itu. Vany mulai mengencangkan jepitan anusnya (menurutku tanpa sadar).

“Kaak... Kakk... Kayaknya... Aaahhh.. Aku mau... Aahh.. aku mau keluarr...” desahnya setelah beberapa lama.
“Keluarin aja... Aaahh... Kakak terus masukin.. Aaahh... kan tetep... Mmmhh... Bisa... Nnhh...”

Vany tak menunggu lama. Sesaat kemudian ia semakin mengencangkan jepitannya. Ini luar biasa. Aku merasa hampir keluar juga.

“Vann... Van tunggu.. Mmhh... Tunggu jangan keluar dulu... Kakak bentar lagi kuar juga.. Tungg... Tunggu... Nnnhh... Aaahh...”
“Okkee.. Oke cepetan kak....aAaahhh... Aku udah... KAK AKU... Ga... GA TAHANN...” desahannya semakin cepat. Nafasnya semakin tak karuan.
“Ya... Yaa.. OKE... Vann.. VANNN... Tahan dikit lagii...” pintaku.
“Ga bisaa... Aaahh... Ga... TahaaaaaNNNNNN!!!!! AAAHHH!!!!”
“Oooh... VAAANNNN!!!!”

Kami mencapai orgasme di saat yang sama. Vany menyembur-nyemburkan cairannya kuat-kuat di saat yang sama aku meledakkan spermaku berkali-kali di dalam anusnya yang luar biasa sempit. Saat Vany squirting anusnya menjadi lebih sempit lagi, sehingga penisku seperti diperas untuk mengeluarkan sperma sebanyak-banyaknya.

“Vvvv... vvvaann... Mmmhh... Kakak... Ga bissa.. berenti kuaarr... Ooohh...” desahku dengan suara tercekat. Ini enak sekali. Aku mencabut penisku yang masih mengeluarkan sperma, dan menhujamkannya ke dalam vagina adikku. Vany tiba-tiba mengeluarkan jurus andalannya itu tanpa peringatan.

“VAANN!! UOOHH!!! VAANN... VV... VAN... Kakak... Keluar lagii...”
“KELUARIN KAAK... YANG BANYAK... Aaah... Yang banyaakkk... Buat terakhir kalinyaa....”

Aku meledakkan lagi spermaku berkali-kali ke dalam rahimnya bahkan sebelum ledakan sebelumnya berhenti. Benar-benar luar biasa. Gelombang demi gelombang melanda penisku. Vany seolah tak mau berhenti membuat kakaknya mengeluarkan spermanya hingga tetes terakhir di dalam tubuhnya.

Vany roboh, tertelungkup di ranjang. Spermaku mengalir keluar perlahan dari vagina dan anusnya, melumuri seprei ranjangnya. Aku beringsut ke sisinya, tergeletak lemas, terengah.

“Hh... Kak... Udah kan... Kesampean.... Hhh..” katanya lemas.
“Hh.. Iya.. Hh... Thank you...” aku tak dapat berkata banyak.


Selama beberapa lama, hanya desah nafas kami yang terdengar di ruangan itu. Aku menatap langit-langit kamar dengan puas. Sekarang aku dapat pergi tanpa beban.

“Kak...” kata Vany pelan setelah beberapa lama.
“Hm?”
“Aku pasti hamil kali ini...”

Aku tak dapat menjawab. Aku pun berpikir begitu. Sudah terlalu banyak aku mengeluarkan spermaku di dalam tubuhnya.

“... Kalo emang ternyata gitu gimana?” tanyaku setelah beberapa lama.
“Ya... Mau gimana lagi...”
“Kamu ikut Kakak pindah ke Singapore aja...”

Vany mendengus geli.

“... Mau deh...” jawabnya. Suaranya bergetar. Ia beringsut mendekatiku, memelukku erat. Vany mengecup pipi kakaknya dengan sayang. Aku menoleh, melumat bibirnya yang mungil. Saat ciuman kami terlepas, aku melihat air mata mengalir di pipinya. Mata Vany berkaca-kaca.

“Ke... Kenapa nangis, sayang?” tanyaku lembut.
“Aku... Hk... Aku... Aku bakal kangen Kakak...” jawabnya tersendat.
“Iya... Kakak juga bakal kangen kamu... Banget...”

Vany menangis di sisiku. Kata-kata seperti menghilang dari mulutku. Aku hanya dapat memeluknya, membelai rambut pendeknya.

“Aku... Hk... Kayaknya... Kayak... Ngerasa Kakak... Terlalu cepet... Hks.. Pergi...” bisik Vany dalam isaknya.
“Halah... Terlalu cepet apa... Udah hampir 15 taon barengan juga...” jawabku bercanda sambil tersenyum menatapnya.
“Aku.. Aku ga mau kehilangan Kakak... Aku... Kakak udah kayak cowokku...”
“Iya...” Kupeluk adikku erat. Air matanya mengalir membasahi pundakku.

Kami terdiam. Saat itu sebuah lagu mengalun dalam benakku. Kunyanyikan lagu itu perlahan kepada Vany, untuk terakhir kalinya.

I could stay awake just to hear you breathing
Watch you smile while you are sleeping
While you’re far away and dreaming

I can spend my life in this sweet surrender
I could stay lost in this moment forever
For every moment spent with you
Is a moment I treasure

I don’t wanna close my eyes
I don’t wanna fall asleep
Coz I’ll miss you babe
And I don’t wanna miss a thing

Coz even when I dream of you
The sweetest dream will never do
I’d still miss you babe
And I don’t wanna miss a thing

Lying close to you, feeling your heart beating
And I’m wondering what you’re dreaming
Wondering if it’s me you’re seeing

And then I kiss your eyes, and thank God we’re together
I just wanna stay with you
In this moment forever
Forever and ever...

Saat aku selesai menyanyikan lagu ini, Vany telah tertidur dalam pelukanku. Kukecup kening adikku dengan sayang. Tanpa sadar, air mataku mengalir. Aku pun tak ingin kehilangan dia. Aku sudah terlalu sayang padanya, bahkan melebihi sayangku pada Grace pacarku. Aku tak ingin berpisah dengannya...

Aku...

Aku mencintainya.